Seorang Pendaki Menemukan Harta Karun Rp.38 Miliar


Seorang Pendaki Menemukan Harta Karun Rp.38 Miliar

VIVAlife - Seorang pendaki Perancis menemukan harta karun berupa perhiasan senilai â? ¬ 246.000 setara Rp38 miliar saat mendaki gunung salju Mont Blanc di Pegunungan Alpen. Dia menemukan sebuah kotak berisi berbagai batu zamrud, rubi dan safir dalam puing pesawat yang menabrak gunung setengah abad lalu. Polisi Prancis memuji kejujuran pemuda tersebut yang langsung melaporkan hasil temuannya. "Dia adalah pemuda jujur ​​yang sangat cepat menyadari bahwa perhiasan ini milik orang yang meninggal di salju," kata kepala kepolisian setempat Sylvain Merly seperti dikutip Skynews."Dia bisa saja menyimpan semuanya tapi memilih memberikannya kepada polisi." Polisi mengatakan perhiasan yang ditemukan awal bulan ini terbungkus dalam kaleng seukuran kotak sepatu dan beberapa lainnya berada dalam tas kecil berlabel 'Made in India'. Saat ini pemerintah Prancis dalam proses menghubungi Pemerintah India, untuk menentukan pemilik sah perhiasan tersebut. Jika tidak diklaim, si pendaki muda bisa bisa mewarisi perhiasan sesuai dengan hukum Perancis. Dua pesawat Air India menabrak Mont Blanc pada tahun 1950 dan 1966. Para pendaki kerap kali menemukan puing-puing pesawat. WoW!!


IPCC: 30 Tahun Lagi, Ada Bencana Iklim Dahsyat

VIVAnews - Para pakar iklim terkemuka di dunia mengeluarkan peringatan keras bahwa dalam dua atau tiga dekade dari sekarang akan terjadi pemanasan global yang dahsyat, yakni kategori lebih dari dua derajat Celcius secara rata-rata.
Dampaknya tidak main-main. Menurut para pakar, kategori itu bisa mengakibatkan naiknya tingkat permukaan air laut, memunculkan gelombang panas, kekeringan, dan perubahan cuaca yang lebih ekstrim.
Dilansir Guardian, 30 September 2013, kondisi ekstrim itu sangat mungkin terjadi jika warga dunia terus memancarkan gas rumah kaca. Akumulasi karbon dioksida saat ini dalam 20-30 tahun akan mengantarkan cuaca Bumi yang sangat panas.
Pada laporan panel pakar iklim, yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), berjumlah 2.000 halaman itu ditegaskan bahwa pemanasan global yang terjadi hari ini merupakan akibat dari tindakan manusia di masa lalu.
Panel pakar itu menambahkan, jika tak ada upaya yang prinsipil dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, maka negara-negara dunia akan melanggar ambang batas pemanasan 2 derajat Celcius, yang sebelumnya sudah menjadi kesepakatan bersama.
Untuk itu, Sekjen PBB Ban ki-Moon mendesak para pemimpin dunia untuk memperhatikan peringatan otoritas perubahan iklim. Ia juga mendesak agar terwujud kesepakatan global baru guna memotong emisi. "Pemanasan global sedang berjalan. Sekarang kita harus bertindak," tegas Ban.
Bukan Omong Kosong
IPCC membantah kritikan yang menyatakan hitungan peningkatan suhu dalam 10-15 tahun adalah kesalahan dalam model komputer mereka. Para pakar membuktikan dengan adanya fakta perubahan iklim. (Baca juga Perubahan Iklim, Pulau-pulau Kecil di Indonesia Tenggelam)
"Tiga dekade terakhir, permukaan Bumi benar-benar bertambah panas dibandingkan tiap dekade sebelumnya sejak 1850. Di belahan Bumi utara pada 1983-2012 adalah kemungkinan periode 30 tahun terpanas dalam 1.400 tahun terakhir," ujarnya.
Jika tidak ada tindakan yang nyata, para pakar mengatakan, bukan sesuatu yang mustahil jika terjadi bencana dahsyat dalam 3-6 dekade ke depan. Di tahun 2100, kemungkinan akan menjadi lebih buruk, Bumi akan menembus ambang batas pemanasan 5 derajat Celcius.


Namun demikian, laporan panel yang mendapat sorotan lebih yaitu soal anggaran atau kuota karbon.
Ilmuwan menemukan, untuk menghentikan pemanasan kategori 2C, total emisi karbon tidak boleh melebihi 1.000 gigaton karbon. Sayangnya, pada tahun 2011 silam, emisi sudah mencapai 541 gigaton, sudah lebih dari setengah ambang batas.
Pembatasan anggaran karbon itu juga menjadi ujian bagi negara-negara dunia. Pasalnya, isu ini sangat sensitif dibicarakan di PBB. Sementara kesepakatan global soal soal emisi karbon sudah ditargetkan rampung pada 2015 mendatang.
Alotnya pembahasan ini juga dilatarbelakangi kekhawatiran negara-negara tertentu yang takut penentuan batas karbon emisi menyimpan agenda politik.

Ditawari Kerja Jadi Penyapu Jalan, Pengemis Bandung Minta Gaji Rp 10 Juta

TRIBUNNEWS.COM - Pengunjuk rasa dari kalangan gelandangan pengemis dan anak jalanan seusai mendatangi ke kantor DPRD Kota Bandung, Jalan Aceh melanjutkan aksinya ke kantor Wali Kota Bandung Jalan Wastukancana, Senin (30/9). Para pengunjuk rasa meminta kebijakan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menangani pengemis dan anak jalanan tidak sekadar ditertibkan tapi diberi pekerjaan yang layak. Mendengar solusi yang diberikan Wali Kota berupa pekerjaan penyapu jalan, pengunjuk rasa malah menanggapi dingin. Sebagian pengemis tersebut menunjukan ketidaksukaan atas rencana Emil dan sebagian mengeluh karena tidak mau menjadi tukang sapu. "Kalau mau dipekerjakan seperti itu, apakah bapak siap mempekerjakan sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah bapak bisa mempekerjakan mereka Rp 4 juta sampai Rp 10 juta. Kalau hanya gaji Rp 700 ribu tidak akan cukup, "ujar Priston salah seorang orator dari Gerakan Masyarakat jalanan (GMD).Emil pun secara tegas meminta kepada pengemis untuk mau mengikuti ketentuan dari Pemkot Bandung. Jika tidak, penertiban akan terus dilakukan. "Pekerjaan sudah disiapkan, tempat tinggal sudah ada dan makan diberi, jika tidak mau ya suka tidak suka harus taat aturan yang ada, jalanan harus bebas dari pengemis dan anak jalanan," ujar Emil. (Tribun Jabar / tsm)

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar